4bola.com – Salah satu klub peserta Liga 1, Tira Persikabo akhir-akhir ini banyak disorot publik. Bukan. Ini bukan karena mereka menjadi kandidat juara musim ini atau transfer pemain bintang gila-gilaan. Akan tetapi ada yang mencolok pada bagian sponsor jersey mereka. Di bagian depan jersey kebanggaan mereka tercetak logo SBOTOP.

SBOTOP sendiri merupakan merek cash market terbaru dari SBOBET yang melayani pejudi di Indonesia. Lewat SBOTOP, SBOBET berharap para pejudi dapat bertransaksi secara langsung dengan SBOBET. SBOTOP sendiri menawarkan pasar taruhan online dari berbagai jenis olahraga seperti sepak bola, bola basket, tenis, kriket dan esports.

Keberadaan logo SBOTOP ini menuai kontroversi. Sebab seperti yang kita ketahui, hukum di Indonesia melarang adanya perjudian di Indonesia, meski tidak dalam konteks sponsor klub olahraga.

Tak hanya Tira Persikabo, sebenarnya ada klub Liga 1 Indonesia lain yang juga mendapatkan sponsor bandar judi online. Klub tersebut yakni Borneo FC. Mereka mendapatkan kucuran dana sponsor dari Fun88 Bola.

Namun kedua klub tersebut berkilah. Kedua tim itu menganggap sponsor mereka bukanlah situs judi online, melainkan dari portal berita. Namun benarkah demikian?

Butuh Sponsor Untuk Operasional

Keputusan kontroversial yang diambil manajemen Persikabo maupun Borneo FC pada dasarnya tidak sepenuhnya salah. Sebab mereka tidak melanggar hukum yang berlaku. Hingga kini, belum ada satu pun pasal yang melarang bandar taruhan online menjadi sponsor klub sepak bola, baik itu dalam Statuta PSSI maupun Undang-Undang nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN).

Keputusan keduanya tak lepas dari kebutuhan klub bola untuk pembiayaan operasional. Dengan adanya guyuran dana dari situs judi online, setidaknya mereka bisa menjamin lancarnya pembayaran gaji pemain dan biaya operasional klub saat mengarungi kompetisi.

Perlu Anda ketahui juga, tidak mudah juga klub-klub sepak bola di Indonesia bisa mendapatkan sponsor. Mungkin hanya klub-klub besar saja yang bisa mendapatkannya. Hal lini terungkap oleh Direktur Pengembangan Bisnis Tira Persikabo, Rhendie Arindra yang dilansir dari Tirto.id bahwa pihak klub kesulitan mendapat sponsor.

“Kami sudah minta ke perusahaan mie instan, tapi ditolak,” papar Rhendie pada Senin (24/2/2020).

Berdasarkan penuturannya, Tira Persikabo juga sempat mendapat tawaran sponsor dari perusahaan rokok. Namun karena memahami regulasi, mereka menolaknya.

“Ada perusahaan rokok yang mau jadi sponsor, tapi regulasi tidak memperbolehkan, kami tolak,” tegasnya.

Alhasil karena diburu waktu, mereka mendapatkan panggilan dari SBOTOP. Mereka mengabari bahwa pihaknya bersedia menjadi sponsor.

Kabar tersebut jelas membuat Tira Persikabo bisa bernafas lega. Dan lagi menurut Rhendie hal tersebut tidak melanggar peraturan yang ada.

Sayangnya hal ini tidak bisa diterima oleh pihak PT Liga Indonesia Baru (LIB). Pada 25 Februari 2020 PT. LIB mengeluarkan surat keputusan nomor 103/LIB/II/2020 yang intinya melarang klub sepak bola berpartisipasi dalam kompetisi resmi jika ia menjalin kerja sama dengan situs judi, juga rokok dan minuman keras. Bila ada yang melanggar, maka klub akan bertanggung jawab penuh.

Hingga SK itu dikeluarkan, kedua tim masih belum memberikan tanggapan. Namun besar kemungkinan keduanya bakal membatalkan kontrak dengan sponsor-sponsor situs judi tadi.

Pertanyaannya sekarang bila kedua klub tersebut membatalkan kontrak dengan sponsor situs judi tadi, apakah keduanya mampu mencari sponsor guna menambal biaya operasional mereka dan gaji pemain di waktu yang mepet seperti ini?

Sebab perlu dipahami juga, klub-klub dengan prestasi yang minim prestasi, sulit sekali mendapatkan sponsor.

Berkaca Dari Liga Inggris

Polemik rumah judi online menjadi sponsor sebuah klub bola bukanlah hal yang baru. Meski tak semua, beberapa klub di Liga Premier Inggris yang menjadi wajah sepak bola modern juga mendapatkan sponsor dari rumah-rumah judi di Inggris.

West Ham United dan Derby County adalah contoh klub-klub Liga Inggris yang menndapatkan sponsor dari situs judi online.

Meski terlihat hal yang wajar, sejatinya pemerintah Inggris lewat federasinya melakukan pengawasan ketat.

Dilansir dari Sport Bussiness, Inggris menerapkan pengawasan terkait Undang-Undang Perjudian sejak 2005. Pemerintah akan mengawasi secara langsung aliran uang yang didapat sebuah tim dengan situs judi sebagai sponsornya.

Belakangan ini, FA (Football Association), lewat pernyataan resminya, mengungkapkan bahwa situs judi merupakan sebuah pendapatan penting bagi sebuah klub. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan dalam Undang-Undang Perjudian yang telah disahkan pada 2005 silam.

Jadi bagaimana pendapat Anda?